Ketika Teman Main ke Rumah : Desa Pandanwangi

Minggu, Februari 04, 2018

Ketika teman kantor tiba-tiba mau main ke rumah? Aneh awalnya, mengingat yang teman mau main ke rumah itu adalah teman yang biasanya main ke tempat yang hits-hits gitu (kabarnya). Lah, rumahku kan bukan tempat yang . . . ?. Bersiaplah untuk sedikit nelangsa, mengingat perjalanan ke rumah tidak banyak dilewati oleh kendaraan umum. Jadi, kalau ke rumah naik kendaraan pribadi ya gaes. Karena traveler yang mau ke rumah ini adalah gadis-gadis, saya harus extra hati-hati untuk menjamu mereka. Disebut orang yang nggak peka, saya malah khawatir jika tidak bisa memuaskan mereka. Euuuh, maafkeun ya. Simak ceritanya . . .





Rencana Dadakan

Ketika teman kantor tiba-tiba mau main ke rumah? Aneh awalnya, mengingat yang teman mau main ke rumah itu adalah teman yang biasanya main ke tempat yang hits-hits gitu (kabarnya). Lah, rumahku kan bukan tempat yang . . . ?. Bersiaplah untuk sedikit nelangsa, mengingat perjalanan ke rumah tidak banyak dilewati oleh kendaraan umum. Jadi, kalau ke rumah naik kendaraan pribadi ya gaes. Karena traveler yang mau ke rumah ini adalah gadis-gadis, saya harus extra hati-hati untuk menjamu mereka. Disebut orang yang nggak peka, saya malah khawatir jika tidak bisa memuaskan mereka. Euuuh, maafkeun ya.

Alhasil, ternyata rencana main ke rumah saya JADI (fix). Sempat terhalang masalah transportasi (cuma kendaraan pribadi yang bisa lancar ke rumah), rupanya mereka (gadis-gadis) berhasil meyakinkan 1 orang lagi untuk ikut. Sebagai driver pastinya ( hihi). Kita Naik Motor Pemirsa . . . Okey, rencana berangkat setelah pulang kerja. Gadis-gadis pulang duluan. Yang cowok, lembur ternyata. Pastinya agak malam nih pulangnya.

Nah habis Isyak-an, kita cowok-cowok driver mulai menjemput gadis-gadis di rumah Ayu. Oh iya, gadis-gadis ini namaya Ayu dan Agustin gaes. Saya, dan Mas Agung (yang berhasil dirayu tadi) mulai berangkat di iringi hujan lebat. Sampai di rumah Ayu pun hujan masih juga belum berhenti. Niatnya, kita langsung cuz gitu soalnya sudah malam. Eh, ternyata Yuk Tin masih dandan. Nyess, hujannya serasa tambah lebat. Padahal acaranya kita cuma mau pulkam ke rumah saya. Mungkin harus hits juga kali ya persiapannya?. Kerennya, prepare ini memakan sampai 1 jam lebih. Fix di jam 8 kita baru berangkat. Wew, dan hujan pun belum juga berhenti.

Kita pamitan sama orang tua nya mbak Ayu. Pas aku pada posisi sendiri tiba-tiba ayahnya nyamperin."Mas, kok ndak naik mobil aja? ". Spontan saya jawab "Ndak bisa naik mobil Pak". Dan perbincangan tadi tidak berlanjut. Hmm, apa saya yang ndak peka ya?

Wes, akhirnya kita berangkat. Langsung ketemuan sama Mas Samsul. Dia juga pulkam ke Jember, kebetulan sejalan dengan rute kita. Hihi, kasian Samsul ikut merasakan lebatnya hujan gegara nungguin kita buat barengan. Aslinya dia berangkat habis maghrib juga bisa. Ah, sudahlah. Makasih ya Samsul.

Oh iya, belum cerita. Rumah saya itu dimana sih? Desa Pandanwangi Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang. Kalau kalian search di Google tentang desa saya? Hmm, ya itu deh yang kalian temukan. Biasa Saja. Itu versinya Google lo ya . . .

Karena malam ini week end, jalanan macet pemudik. Ada banjir juga tadi di Probolinggo. Sempat dialihkan lewat jalur alternatif. Saya yang nggonceng Yuk Tin (Agustin), Mas Agung nggonceng Mbak Ayu. Saya dan Yuk Tin ngobrol tiada henti (asli!), mulai ringan hingga berat. Saya sendiri merasa aneh. Ndak biasa. Efek berduaan kah?. Alhamdulillah, penting ndak ngantuk. Hingga perjalanan hampir sampai tiba di rumah. Hujan masih setia. Gresik ke Lumajang berteman hujan.


Sampai di rumah

Sampai di rumah sekitar jam 1 pagi gitu. Capeknya sudah lupa, soalnya disambut sama orang tua yang masih belum tidur. Anak macam apa ini, membiarkan orang tuanya nggak tidur?. Kondisi rumah lumayan rapi dengan sentuhan seadanya. Di rumah jarang sekali ada tamu menginap, jadi setting kamar untuk tamu ya biasa-biasa aja. Selamat menikmati ya Yuk Tin dan Mbak Ayu.

Setelah salaman dengan orang tua, mandi dan makan. Gadis-Gadis, Mas Agung dan Samsul saya ijinkan istirahat dulu. Saya? Saya sedang bingung mau diajak main kemana besok anak-anak ini? Soalnya saya sendiri belum explore wisata di Lumajang? Sudahlah, sudah pagi. Tidur sebentar ya . . .

Paginya

Alhamdulillah bangun di jam setengah 5 pagi. Masih bingung tidak punya rencana apa-apa. Saya beranikan untuk membangunkan mereka. Termasuk Samsul yang akhirnya menginap di rumah saya karena kepagian. Membangunkan cewek-cewek tanpa rasa sungkan. Yang cowok-cowok, duh sulitnya minta ampun untuk bangun. Mungkin capek. Tapi kalian ada di rumah saya lo? . . .

Para cewek bangun tidur sudah langsung dandan gaes. Dari setengah 5 sampai setengah 6 baru selesai. Padahal yo nggak mandi. Okey, saya putuskan pagi ini untuk pergi ke belakang rumah. Pantai tanpa nama dan bukan tempat wisata. Mau lihat sunrise? sudah pasti terlambat. Lagian mendung masih belum pudar pagi ini. Harapan saya semoga pas sampai di pantai bisa menemukan keindahan pagi ini dan bisa berbagi dengan teman-temanku. Yuk kita lihat . . .

Naik motor sekitar 10 menit sampai. Tempat pertama langsung saya tunjukan pada jembatan yang lagi hits saat ini di desa saya. Kabarnya sih namanya jembatan Selowangi. Singkatnya karena menghubungkan antara Desa Selok dan Desa Pandanwangi (desaku) yang terpisah oleh Kali Mujur (sungai) jalannya lahar Gunung Semeru. Untung saja jembatan masih belum ramai pengunjung dan pedagang (masih pagi). Kabarnya kalau hari libur jembatan ini ramai. Pas kita disini sudah ada sih beberapa pengunjung yang sudah ambil antrian menikmati pagi ini disini. Abaikan pengunjung lainnya. Dasar anak jaman now kali ya? Yuk Tin dan Yuk Mar (Ayu) aksinya sudah kemana-mana. Hapenya sudah jepret sana jepret sini. Tahukah kalian bahwa dibalik foto yang instagramable disitu ada perjuangan teman yang moto-in. Siapa lagi kalau bukan kita (cowok-cowok)? . . .

Bisa lihat sendiri kan? Saya harap adek-adek senang . . .

Ini lo Jembatan Selowangi nya. Kalau kalian kesini view nya banyak. Di sisi  kanan terlihat komplek Gunung Semeru dan di sisi kiri nikmati hamparan laut yang luas lengkap dengan sawah yang hijau (sayang nggak difoto).

Yuk Tin, teman saya yang suka jalan-jalan. Hati-hati, kalau ngajak dia malah tambah rame.
 
Mbak Ayu. Mungkin dia nggak punya acara. Makanya ikut Yuk Tin.

Kalau kalian ke jembatan ini harus pagi ya gaes. Agar tempat ini jadi private buat kalian.


Niatnya sih setelah ini mau ke Pantai. Kali Mujur di bawah jembatan seolah ngode kalau tidak bisa ke Pantai. Hujan deras semalam membuat aliran sungainya menjadi deras. Biasanya jalan ke Pantai terputus olehnya. Sebenarnya jalan ke pantai itu ada banyak. Bahkan, pas musim kemarau Kali Mujur pun bisa jadi jalan. Ada petualangan mencari jalan ke Pantai lo gaes . . . SERU kan? (asli maksa). Penting lurus ke Selatan. Soalnya pantainya memang di selatan (simpel)

Walaupun saya orang sini. Tapi saya merasa asing di sini. Bahkan jarang yang kenal saya. Singkat cerita, dulu bisa sekolah SD saja sudah Alhamdulillah. Setelah itu mereka (teman seangkatan) memulai kehidupan yang sesungguhnya. Bekerja, Menikah, Berkeluarga. Sumber daya alam di desa saya masih terbilang cukup. Bertani dan berternak jadi pilihan. Saya? Saya melanjutkan sekolah ke SMP hingga SMA. Alhasil, SMP sudah ada jarak pertemanan di anatar teman seangkatan. Mereka udah gendong anak, saya masih haha hihi ngomongin anime. Seolah-olah mereka lebih dewasa gitu. Akhirnya lebih banyak main di Kota daripada di desa. Di desa rasa pertemanannya menjadi eksklusif. Maaf jika saya nggak bisa jadi guide yang baik. Ya itu tadi, jarang di desa. Jadi, ketika kalian kesini? Yuk, main bareng kesasar bareng.

Pantai?
Setelah muter-muter mencari jalan ke pantai sekitar 15 menit kayaknya. Dan akhirnya memang tidak bisa ke pantai. Banjir Bos . . . Tiap kali mau sampai pantai, kali pancernya sudah banjir. Yup, Kali Mujur tadi berhasil membanjiri jalan menuju pantai. Sempat takut membuat adek-adek kecewa. Akhirnya saya mencari jalan lain yang sedikit lebih jauh. Teringat dulu ada penambangan pasir manual, mungkin disana ada jalan. Sekarang sih sudah tidak ada penambangan pasir lagi, selain karena kasunya SALIM KANCIL aktivis anti tambang yang meninggal 2 tahun lalu dan setahuku juga karena habis ditambang lalu ditinggal pergi. Jadi aktivitas penambangan pasir dihentikan. Lanjut menyusurui jalan yang sempat saya pikirkan tadi.

Di jalan sempat merasa tersesat (guide nggak pro) karena hamparan pasir yang dulu kini berubah menjadi padang rumput hijau yang luas. Kemana pasirnya? Ya ditimbuhi rumput pastinya. Ada jalan bekas mobil dan kendaraan lain yang lewat, berarti memang sudah jadi jalan umum. 

Menyusuri jalan berumpu yang seolah-olah diikuti oleh komplotan burung Kuntul yang terbang di atas kita. Pemandangan yang nggak akan pernah kalian lihat pas di Surabaya dek (mbatin) Nah, pas sedikit lagi sampai pantai. Sungai tadah hujan (pancer) ternyata juga membanjiri area. Ke Pantai? Pasti nggak bisa lah.

Kecewa?

Adek-adek kecewa gaes. Tapi mau bagaimana lagi? Sejenak istirahat dan jam sudah menunjuk di 7 pagi. Melihat dan menikmati pemandangan sekitar dulu. Sembari merelakan karena nggak bisa ke pantai. Sebenernya hanya terpisah oleh sungai pancer saja. Karena sungai pancernya sedang meluap dan dalam pastinya. Itu yang menyebabkan kita tidak bisa melewatinya untuk ke pantai.
Istirahat sejenak


Kecewa berikutnya adalah nggak ada sinyal internet.


Disela istirahat
Mata dekejutkan dengan pemandangan sekitar. Seolah-oleh kita tersesat terus menemukan sesuatu yang indah. Pemandangan yang belum pernah terbayangkan. Asli bagus. Bukan karena kita capek terus berhalusinani gitu ya. Kalian bisa lihat sendiri.
Tuh kan banjir, tapi indah.


 
Subhanallah




Terus main di padang rumput.

Yang seneng sebenarnya saya. Bisa main di luar. Apalagi sama kamu.



 
Lompat itu berat. Mending nggak lompat. Tapi saking senengnya sampai lompat-lompat.

 
Hanya sebatas tamu dan tuan rumah
Nih bocah-bocah ngapa yak?



Pulang

Mainnya harus di cut. Sudah jam setengah 8. Lapar sudah memanggil. Saatnya menggiring adek-adek ini pulang. Dicariin Mak e buat sarapan. Pada nanya tuh mereka, habis ini kemana ya? Ya sarapan lah. Setelah itu? Belum tahu. Ah, penting sarapan sek terus ngombe kopi.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Wahh sayang banget ga bisa ke pantai gara-gara banjir, tapi ini aja udah keren banget ada gunung dan padang rumput yang Instagrammable.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada hewan-hewan liar juga seharusnya (sayang nggak kefoto). Yuk kak Adityar main ke Lumajang 😁😍

      Hapus

Like us on Facebook

Flickr Images